Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

DPK BKPRMI Sambaliung Gelar Pelatihan Ilmu Tajwid Pintar untuk Guru TPA

DPK BKPRMI Sambaliung Gelar Pelatihan Ilmu Tajwid Pintar untuk Guru TPA

Sambaliung, 25 Agustus 2024Dewan Pengurus Kecamatan (DPK) Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sambaliung sukses menggelar Pelatihan Ilmu Tajwid Pintar yang ditempatkan di aula SMA 4 Sambaliung pada Minggu, 25/08. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi para guru Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) di wilayah Kecamatan Sambaliung menjelang pelaksanaan munaqosyah guru.

Acara ini dibuka dengan laporan panitia yang disampaikan oleh Irwansyah, yang menjelaskan pentingnya pelatihan ini sebagai persiapan untuk menghadapi munaqosyah. Setelah itu, Hj. Sitti Halimah, Ketua DPK BKPRMI Kec. Sambaliung, memberikan sambutannya dengan menekankan pentingnya peningkatan kualitas pengajaran tajwid di TPA untuk mencetak generasi yang mampu membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar.

H. Misbahul Ulum selaku Kasi Bimas Islam Kemenag Berau memberikan sambutan sekaligus membuka pelatihan secara resmi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan harapannya agar pelatihan ini dapat membantu para guru TPA dalam memperdalam pengetahuan mereka tentang tajwid serta meningkatkan kemampuan mereka dalam mengajarkan ilmu tersebut kepada para santri.

Setelah pembukaan resmi, kegiatan pelatihan yang dipandu oleh Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Taman Kanak-kanak Al-Qur'an (LPPTKA) Kecamatan Sambaliung, Sahrul Anam. Beliau menyampaikan materi secara komprehensif, memberikan pemahaman mendalam serta teknik pengajaran tajwid yang efektif kepada para peserta.

Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, para guru TPA dapat meningkatkan kemampuan mereka dan lebih siap dalam menghadapi munaqosyah yang akan datang. Pelatihan ini tidak hanya bermanfaat bagi guru, tetapi juga akan berimbas positif kepada siswa-siswa dalam proses belajar membaca Al-Qur'an.


Fiqih Curhat: Anak Kecil Jadi Muadzin dan Imam Shalat. Bolehkah?

Fiqih Curhat: Anak Kecil Jadi Muadzin dan Imam Shalat. Bolehkah?

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Izin bertanya seputar adzan. Apakah boleh adzan dikumandangkan oleh anak kecil yang masih duduk di bangku TPA? Di tempat kami, kadang-kadang yang mengumandangkan adzan adalah anak-anak TPA yang belum balig, dan bahkan kadang anak-anak yang agak besar kami suruh menjadi imam shalat. Mohon pencerahannya.

(Penanya: Jemaah Trans Bangun Solidaritas/TRABAS)

 Wa alaikum salam Wr. Wb.

Penanya yang dirahmati Allah SWT, adzan secara bahasa berarti pemberitahuan. Secara syar'i, adzan adalah pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan menggunakan lafadz-lafadz yang sudah ditentukan. Dalam literatur fiqih, orang yang mengumandangkan adzan harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut:

  • Islam
  • Berakal
  • Tamyiz
  • Laki-laki; perempuan tidak boleh adzan kecuali untuk jama'ahnya sendiri.
  • Mengetahui waktu masuknya shalat.
Adapun kesunahan-kesunahan dalam mengumandangkan adzan adalah sebagai berikut:
  • Orang yang merdeka (bukan hamba sahaya)
  • Orang yang balig (dewasa)
  • Mempunyai suara yang lantang
  • Mengetahui waktu shalat secara akurat
  • Orang yang sukarela dalam melakukannya
  • Suci dari kedua hadas
  •  Dikumandangkan di dalam atau dekat masjid dan di tempat yang tinggi (seperti pengeras suara pada zaman sekarang)
  • Berdiri dan menghadap kiblat
  • Memasukkan dua ujung jari ke lubang telinganya
  • Melafadzkan dua lafadz takbir dalam satu nafas

Dari beberapa persyaratan dan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya anak kecil (setingkat TPA) diperbolehkan untuk mengumandangkan adzan, asalkan benar lafadz yang diucapkannya. Hanya saja, jika mengacu pada kesunahan dalam mengumandangkan adzan, maka orang dewasa yang memenuhi kriteria di atas lebih diutamakan.

Kemudian terkait anak kecil menjadi imam shalat apakah boleh (sah)? Maka sebagaimana dalam hadis bahwasanya di masa Rasulullah sebenarnya pernah terjadi peristiwa demikian, salah satu sahabat yang masih berusia sekitar enam tahun yaitu ‘Amr bin Salamah mengimami para pengikutnya, seperti dalam hadis sahabat:

 كان عمرو بن سلمة يؤم قومه على عهد رسول الله ﷺ وهو ابن ست أو سبع سنين.

“Amr bin Salamah mengimami kaumnya di masa Rasulullah , sedangkan dia masih berumur sekitar enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut, para ulama Syafi’iyyah berpandangan bahwa dihukumi sah shalatnya orang yang sudah baligh ketika makmum pada anak kecil yang sudah tamyiz (dapat membedakan hal baik dan buruk) dan mengerti tentang syarat-syarat dan rukun shalat, meskipun jamaah model demikian dihukumi makruh, sebab mau bagaimanapun masih lebih utama orang yang sudah baligh yang seharusnya menjadi imam, bukan anak kecil. Selain itu, hukum makruh ini dilandasi karena menurut tiga mazhab yang lain selain Imam Syafi’i, bermakmum pada anak kecil pada shalat fardlu dihukumi tidak sah. Keabsahan shalat dengan anak kecil ini berlaku dalam semua shalat, baik itu shalat fardlu ataupun shalat Sunnah kecuali pada shalat Jumat saat anak kecil menjadi imam dan termasuk dalam hitungan 40 orang yang dapat mengabsahkan shalat jum’at, maka dalam keadaan demikian tidak boleh bagi anak kecil untuk menjadi imam.

Waallahu A’lamu Binafsil Amri Wa Haqiqatil Haal.

 

referensi lengkapnua bisa dibaca dalam ibarat (teks) di bawah ini:

فقه العبادات - شافعي (ص: 265):

 شروط المؤذن:

1 - الإسلام والعقل: فلا يصح أذان الكافر أو المرتد أو المجنون لأنهم ليسوا من أهل العبادات.

2 – التمييز

3 - الذكورة إلا في جماعة نسوة فإذا أذنت امرأة للرجال لم يعتد بأذانها لأنه لا تصح إمامتها للرجال فلا يصح تأذينها لهم.

4 - أن يكون عارفا بالمواقيت إن كان مولى (موكلا به بشكل دائم) ومرتبا للأذان.

 

ما يسن في الأذان والإقامة:

1.   ن يكون المؤذن حرا بالغا ...

2.    أن يكون المؤذن صيتا......

3.   أن يكون عالما بأوقات الصلاة عدلا .....

4.   أن يكون المؤذن متطوعا .......

5.   أن يكون على طهارة لأن الأذن ذكر وهو متصل بالصلاة فيستحب أن يكون على طهارة ......

6.   أن يكون قرب المسجد على موضع عال ......

7.   أن يؤذن قائما ......

8.   أن يكون متوجها إلى القبلة فإذا بلغ الحيعلتين التفت عن يمينه فقال: " حي على الصلاة حي على الصلاة " ثم عن يساره فقال: " حي على الفلاح حي على الفلاح " من غير أن يحول صدره عن القبلة ولا قدميه عن مكانهما ......

9.   أن يجعل إصبعيه في أذنيه في الأذان دون الإقامة ......

10.          أن يجمع كل تكبيرتين بنفس ........

 

الفقه على مذهب الأربعة: ج،1/ص:642

الشافعية قالوا: يجوز اقتداء البالغ بالصبي المميز في الفرض إلا في الجمعة فيشترط أن يكون بالغا إذا كان الإمام من ضمن العدد الذي لا يصح إلا به فإن كان زائدا عنهم صح أن يكون صبيا مميزا


Fiqih Curhat: Hukum Memejamkan Mata Saat Shalat

Fiqih Curhat: Hukum Memejamkan Mata Saat Shalat

Assalamu alaikum. Wr. Wb.

Mau bertanya tentang hukum memejamkan mata saat shalat boleh tidak, karena kadang saya merasa terganggu saat melihat sesuatu di depan saya?

 Wa alaikum salam Wr. Wb.

Dalam melaksanakan shalat seseorang dituntut mengerjakannya dalam keadaan khusyu’ sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Zainudin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Muin, hal 125:

وسن (فيها) أي في صلاته كلها (خشوع بقلبه) بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة (وبجوارحه) بأن لا يعبث بأحدها وذلك لثناء الله تعالى في كتابه العزيز على فاعله بقوله قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة.

 Artinya: Sunah khusyuk di hatinya, di seluruh shalatnya, yaitu dengan tidak menghadirkan di hatinya selain yang terkait dengan shalat, meskipun terkait dengan masalah akhirat. Sunah pula adanya khusyuk pada anggota badannya, yaitu dengan cara tidak bermain-main. Kesunahan khusyuk dikarenakan Allah memuji di dalam kitab-Nya kepada para pelaku khusyuk dengan ungkapan:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ {1} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ {2}

(Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya), juga karena pahala shalat tidak bisa didapatkan apabila tidak khusyuk sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih.

Dalam kitab tersebut beliau juga menyatakan sunah bagi orang yang melaksanakan shalat menfokuskan pandangannya pada tempat sujudnya sebab itu akan mendatangkan kekhusyuan. Beliau mengatakan:

وسن إدامة نظر محل سجوده لأن ذلك أقرب إلى الخشوع، ولو أعمى، وإن كان عند الكعبة أو في الظلمة، أو في صلاة الجنازة. نعم، السنة أن يقتصر نظره على مسبحته عند رفعها في التشهد لخبر صحيح فيه.

Artinya: Disunahkan melanggengkan pandangan mata ke arah tempat sujud supaya lebih khusyu’, sekalipun tuna tentra, sedang shalat dekat Ka’bah, shalat di tempat yang gelap, ataupun shalat jenazah. Namun disunahkan mengarahkan pandangan mata ke jari telunjuk, terutama ketika mengangkat jari telunjuk, saat tasyahud akhir, karena ada dalil shahih tentang kesunahan itu.

Kemudian apakah boleh seandainya shalat dilakukan sambil memejamkan mata sebagaimana pertanyaan di atas. Maka jawabannya adalah hukum memejamkan mata saat shalat boleh-boleh saja dan bahkan sunah jika sekiranya ada sesuatu yang menggangu pandangan dan pikirannya. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anah Thalibin dan dalam masalah ini beliau merincinya menajdi empat macam:

1. Memejamkan mata boleh-boleh saja dan tidak makruh sebab tidak ada larangan.

2. Wajib memejamkan mata apabila ada yang tidak menutup aurat dalam saf shalat. Ini biasanya jarang terjadi, kecuali pada masyarakat yang sedang mengalami krisis pakaian.

3. Sunnah apabila shalat di tempat yang banyak gambar dan ukiran. Memejamkan mata disunnahkan dalam kondisi ini bila gambar dan ukiran tersebut bisa menganggu pikiran.

4. Makruh memejamkan bila berbahaya, yaitu shalat di tempat yang banyak ular atau binatang lainnya yang dikhawatirkan dapat mengancam keselamatannya.

إعانة الطالبين - البكري الدمياطي - ج ١ - الصفحة ٢١٤

(قوله: ولا يكره تغميض عينيه) أي لأنه لم يرد فيه نهي: قال ع ش: لكنه خلاف الأولى، وقد يجب التغميض إذا كان العرايا صفوفا، وقد يسن كأن صلى لحائط مزوق ونحوه مما يشوش فكره. قاله العز بن عبد السلام. اه‍ م ر. (قوله: إن لم يخف) أي من التغميض ضررا، فإن خافه كره.


Fiqih Curhat: Problematika Anak Hasil Adopsi dan Solusinya

Fiqih Curhat: Problematika Anak Hasil Adopsi dan Solusinya

Assalamu alaikum. Wr.Wb

Izin bertanya Pak Ustadz tentang seputar hukum mengadopsi anak, serta apakah ketika sudah besar anak yang saya diadopsi haram memandang atau berduaan dengan suami saya, begitu juga siapa yang berhak menjadi wali nikahnya nanti? karena kebetulan anak yang saya adopsi adalah perempuan. Mohon pencerahannya!

(Penanya: Majelis Taklim Al-Kautsar Sambaliung)

 Wa alaikum salam Wr.Wb.

Ibu penanya yang dirahmati Allah Swt. Pertama yang perlu saya paparkan di sini adalah terkait istilah adopsi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki pengertian pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri, sedangkan arti mengadopsi adalah mengambil (mengangkat) anak orang lain secara sah menjadi anak sendiri. Adapun di masa jahiliyah adopsi dikenal dengan istilah tabanni, yang mana sejak sebelum Nabi Muhammad Saw. diutus mereka mempraktikkan adopsi secara mutlak dengan artian mennisbatkan hubungan antara anak angkat dan orang tua angkat sepenuhnya sama dengan anak dan orang tua kandung.

Rasulullah sendiri juga memiliki anak angkat, Zaid bin Haritsah, yang kemudian dinisbatkan dengan Zaid bin Muhammad. Kemudian turunlah ayat:

﴿ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ ۚ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾[ الأحزاب: 5]

Artinya: Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzab: 5].

Dalam ayat lain ditegaskan bahwa anak hasil adopsi tidak boleh disamakan dengan anak kandung. Sehingga Allah memerintahkan Rasululah menikahi Zainab bin Jahsyi, mantan istri anak angkatnya sebagai bukti bahwa status anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung.

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا﴾ الأحزاب: 37]

….Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. [Ahzab: 37]

Berdasarkan dua ayat di atas, maka hukum mengadopsi sebagaimana yang dipraktikkan orang-orang di masa jahiliyah (menisbatkan nasab sehingga mendapat hak warisan dari orang tua angkatnya) adalah haram.

Beda halnya jika hanya dalam rangka mengasuh, merawat dan mendidik, maka hukumnya boleh-boleh saja dan hal semacam itu diistilahkan dengan tabanni bi makna al-kafalah.

Kemudian terkait hukum memandang dan ikhtilath (berduaan) hukumnya tetap haram disebabkan tidak adanya hubungan mahram. Begitu juga seorang bapak angkat tidak diperbolehkan menjadi wali pernikahannya, dan yang berhak menjadi walinya adalah bapak kandung, atau wali-wali yang lain dari keluarga aslinya, dan jika tidak ada atau tidak ditemukan, maka perwaliannya berpindah pada hakim (KUA).

Solusi: Agar terhindar dari keharaman tersebut, maka hendaknya bagi ibu yang ingin mengadopsi anak hendaknya menjadikan anak tersebut menjadi anak rodho’ dengan cara mengadopsinya pada waktu umur di bawah dua tahun dan menyusuinya sebagai lima kali susuan secara terpisah.

فتاوى قطاع الإفتاء بالكويت: (ج:7، ص:148)

انتساب الولد إلى غير أبيه:

كما حرم الإسلام على الأب أن ينكر نسب ولده بغير حق حرم على الولد أن ينتسب لغير والده، ويدعى إلى غير أبيه، قال عليه الصلاة والسلام: "من ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفاً ولا عدلاً". أي توبة ولا فدية. (متفق عليه)، وقال عليه الصلاة والسلام: " من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام". (متفق عليه).

التبني بمعنى التربية والرعاية:

هناك نوع يظنه الناس تبنياً وليس هو بالتبني الذي حرمه الإسلام وذلك: أن يضم الرجل إليه طفلاً يتيماً أو لقيطاً، ويجعله كابنه في الحنو عليه والعناية به والتربية له، فيحضنه ويطعمه ويكسوه ويعلمه كأنه ابنه من صلبه، ومع هذا لم ينسبه لنفسه ولم يثبت له أحكام البنوة المذكورة، فهذا أمر محمود في دين الله. يستحق صاحبه عليه المثوبة في الجنة.

 

التنبيه (ص: 204):

باب الرضاع

 إذا ثار للمرأة لبن على ولد فارتضع منها طفل له دون الحولين خمس رضعات متفرقات صار ولدا لها وأولاده أولادها وصارت المرأة أما له وأمهاتها جداته وآباؤها اجداده واولادها إخوته واخواته وأخوتها وأخواتها أخواله وخالاته وإن كان الحمل ثابت النسب من رجل صار ولدا له وأولاده أولاده وصار الرجل ابا له وأمهاته وجداته وآباؤه أجداده وأولاده إخواته وأخواته وإخوته وأخواته أعمامه وعماته ويحرم النكاح بينهما بالرضاع كما يحرم بالنسب وتحل له الخلوة والنظر كما تحل بالنسب.

المجموع شرح المهذب - شجرة العناوين (ج:16، ص:163)

(فرع) قال الشافعي رضى الله عنه: فان كان أولاهم به مفقودا أو غائبا غيبة بعيدة كانت أو قريبة زوجها السلطان، وجملة ذلك أنه إذا كان للمرأة أب أو جد فغاب الأب وحضر الجد ودعت المرأة إلى تزويجها نظرت، فان كان الاب مفقودا بأن انقطع خبره ولا يعلم أنه حي أو ميت فان الولاية لا تنتقل إلى الجد، وانما يزوجها السلطان، لأن ولاية الاب باقية عليها، بدليل أنه لو زوجها في مكانه لصح.


Fiqih Curhat: Apakah Keluarga yang Diikutkan Berkurban Juga Dilarang Memotong Kuku, dan Rambut?

Fiqih Curhat: Apakah Keluarga yang Diikutkan Berkurban Juga Dilarang Memotong Kuku, dan Rambut?

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuhu,

Kami mau bertanya terkait larangan memotong kuku dan rambut bagi orang yang akan berkurban. Apakah keluarga atau orang yang diikutkan namanya untuk kurban tersebut juga dilarang melakukannya? 

(Penanya: Jama’ah Majelis Taklim Al-Barokah, Sambaliung, Berau)

Ibu Penanya yang budiman. Semoga Allah Subhanahu WaTa’ala senantiasa mencurahkan rahmatNya untuk kita semua, aamiin.

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, terlebih dahulu kami uraikan terkait permasalahan larangan memotong kuku dan rambut bagi orang yang akan berkurban, yang hukumnya terjadi khilaf (perbedaan pendapat) di kalangan ulama. Khilaf tersebut muncul dari memahami hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,

إذا دخل العشر من ذي الحجة وأراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره ولا بشره شيئا حتى يضحي

“Apabila sepuluh hari pertama Dzulhijjah telah masuk dan seorang di antara kamu hendak berkurban, maka janganlah menyentuh rambut dan kulit sedikitpun sampai (selesai) berkurban,” (HR Ibnu Majah, Ahmad, dan lainnya).

Maka sebagaimana dijelaskan dalam kitab Mirqhat Al-Mafatih Syarh Misykat Al-Mashabih juz 3 halaman 511, terdapat 3 pendapat ulama mengenai hal tersebut:

  1. Menurut Imam Malik dan Imam Syafi’i hukumnya sunah tidak memotong kuku dan rambut.
  2. Menurut Imam Abu Hanifah adalah mubah (tidak makruh meski melakukannya).
  3. Menurut Imam Ahmad hukumnya wajib tidak memotong kuku dll. Haram jika melakukannya.

Berikutnya terkait pertanyaan, apakah keluarga atau orang yang dimasukkan namanya juga terkena hukum larangan di atas?

Dalam kitab Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyah juz 5 halaman 95 dijelaskan bahwa menurut pandangan madzhab Syafi’I dan Maliki, kesunahan tidak memotong kuku dan rambut tidak hanya berlaku bagi orang yang berkurban akan tetapi juga kepada orang yang dimasukkan atau diniatkan namanya dalam pelaksanaan kurban.

Sumber Rujukan:

(مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح ج: 3، ص: 511)

الحاصل أن المسألة خلافية، فالمستحب لمن قصد أن يضحي عند مالك والشافعي أن لا يحلق شعره، ولا يقلم ظفره حتي يضحي، فإن فعل كان مكروها. وقال أبو حنيفة: هو مباح ولا يكره ولا يستحب، وقال أحمد: بتحريمه

(الموسوعة الفقهية ج:5، ص:95)

ذهب الشافعية والمالكية إلى أنه يُسَنُّ لِمَنْ يُرِيدُ التَّضْحِيَةَ وَلِمَنْ يَعْلَمُ أَنَّ غَيْرَهُ يُضَحِّي عَنْهُ أَلَّا يُزِيلَ شَيْئًا مِنْ شَعْرِ رَأْسِهِ أَوْ بَدَنِهِ بِحَلْقٍ أَوْ قَصٍّ أَوْ غَيْرِهِمَا، وَلا شَيْئًا مِنْ أَظْفَارِهِ بِتَقْلِيمٍ أَوْ غَيْرِهِ، وَلا شَيْئًا مِنْ بَشَرَتِهِ، وَذَلِكَ مِنْ لَيْلَةِ الْيَوْمِ الأَوَّلِ مِنْ ذِي الْحِجَّةِ إِلَى الْفَرَاغِ مِنْ ذَبْحِ الأُضْحِيَّةِ؛ لقول النبي صلى الله عليه وآله وسلم: «مَنْ رَأَى هِلَالَ ذِي الْحِجَّةِ فَأَرَادَ أَنْ يُضَحِّيَ، فَلَا يَأْخُذْ مِنْ شَعْرِهِ وَلَا مِنْ أَظْفَارِهِ حَتَّى يُضَحِّيَ» أخرجه النسائي في “السنن الكبرى”، ومخالفة ذلك ليست بحرامٍ، بل هي مكروهةٌ كراهةَ تنزيه

Wallaahu a’lamu binafsil amri wa haqiiqatil haal.

Tanya jawab ini juga dipublikasikan di NU MEDIA


Kamus Bahasa Arab untuk PC/Laptop

Kamus Bahasa Arab untuk PC/Laptop

Bagi kamu kususnya pelajar tentu saja ketika mau terjemahkan bahasa Arab memerlukan sebuah kamus. Menariknya ini bisa dipakai siapa saja dan praktis, karena aplikasinya bisa dipasang di laptop atau PC. Dengan begitu nantinya bakal membantu kalian untuk menterjemahkan bahasa arab ke indonesia dan sebaliknya.


Kamus Arab-Indonesia bisa kalian download secara gratis, jangan lupa ini untuk perangkat PC. Ringan digunakan karena program ini bisa langsung kalian pakai tanpa install terlebih dahulu, tinggal klik dua kali maka aplikasi bisa langsung digunakan.

Selain menghemat ruang penyimpanan, menggunakan aplikasi kamus arab ini cukup mudah soalnya kita bisa melakukan pencarian dan secara otomatis bakal muncul maknanya. Kami menyarankan aplikasi ini dipakai untuk penyeimbang dan kalian tetap berpacu pada kamus buku yang lebih akurat.

Tentu saja dengan fasilitas digital, para pelajar maupun orang umum bisa lebih mudah menambah ilmu bahasa arab dimana saja dan kapan saja. Berikut telah kami siapkan link download Kamus Bahasa Arab v3.0 

Sebuah software yang dikembangkan oleh Asep Hibban, kamus ini menggunakan database Al-Munawwir sehingga lumayan lengkap. Kamus arab ini telah diklaim bisa sinkron sama maktabah syamilah.

Dengan menggunakan kamus Arab v3.0 telah dilengkapi sama keyboard virtual dan keluaran terjemahan yang diklasifikasikan menjadi 2, yakni fi’al (kata kerja) dan ghairu fi’il (selain kata kerja).


Link Download Software Kamus Bahasa Arab v3.0 

Link Tutorial Instal Kamus Bahasa Arab v3.0 


 Fiqih Curhat: Sahkah Shalat Jumat yang Dilaksanakn di Lokasi Perusahaan?

Fiqih Curhat: Sahkah Shalat Jumat yang Dilaksanakn di Lokasi Perusahaan?

Assalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuhu,

Saya karyawan pada salah satu perusahaan tambang yang jaraknya cukup jauh dengan kampung terdekat, memerlukan waktu 30-50 menit apabila ditempuh dengan kendaraan. Sementara untuk keluar masuk lokasi tambang, karyawan tidak diperkenankan menggunakan kendaraan pribadi tetapi harus menunggu transportasi yang disediakan perusahaan.

Hari Jumat karyawan hanya diberikan jam istirahat selama 90 menit, sehingga berdasarkan jarak di atas tidak memungkinkan untuk mengikuti shalat Jumat di kampung terdekat yang ada masjidnya. Dengan kondisi ini, karyawan yang muslim yang jumlahnya lebih dari 40 orang kemudian berinisiatif mengadakan shalat Jumat di lokasi perusahaan. (Karyawan Perusahaan – Samarinda)

PERTANYAAN

1.       Apa status saya dan karyawan lainnya?

2.       Sahkah hukumnya shalat Jumat yang saya laksanakan di lokasi perusahaan bersama para karyawan lainnya?

JAWABAN

Wa’alaikumussalaam Warahmatullaahi Wabarakaatuhu,

Penanya yang budiman. Semoga Allah Subhanahu WaTa’ala senantiasa mencurahkan rahmatNya untuk kita semua, aamiin.

Terkait status Anda dan karyawan lainnya, maka sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Ismail Zain Al-Yamani dalam kitabnya Qurrotul Ain bi Fatawa Isma’il, halaman 81, setidaknya ada tiga kategori dalam pelaksanaan shalat jumat.

  1. Musafir: orang yang berniat tinggal tidak lebih dari 4 hari atau lebih.
  2. Muqim: orang yang berniat tinggal 4 hari atau lebih (bahkan 100 tahun misalnya), namun masih mempunyai keinginan untuk kembali (pulang) ke tempat asalnya.
  3. Mustauthin: Penduduk asli atau pendatang yang menetap, yang tidak berniat kembali (pulang) ke tempat asalnya.

Bagi seorang musafir tidak wajib shalat Jumat dan tidak dihitung ahli Jumat (tidak menjadi syarat sah) dan seandainya ia shalat, maka shalatnya sudah mencukupi dari shalat dzuhur.

Adapun bagi yang berstatus muqim maka ia tetap berkewajiban melaksanakan shalat Jumat bersama penduduk setempat (ahli Jumat) jika mendengar adzan, hanya saja mereka tidak dapat mengesahkannya karena keabsahan shalat Jumat yang mereka laksanakan bersifat mengikuti dan tidak bersifat independen.

Sedangkan kelompok yang ketiga, mustauthin, mereka berkewajiban melaksanakan shalat Jumat serta berstatus mengesahkannya. Tidak sah bagi mereka melaksanakan shalat Zhuhur selama dimungkinkan untuk melaksanakan shalat Jumat.

Dengan demikian status karyawan pada perusahaan di atas dapat dibagi menjadi 2 kategori:

  1. Muqim Ghairi Mustauthin: Karyawan yang menetap di mess (apabila ada karyawan yang tinggal dan menetap di mess perusahaan) namun statusnya bukan Mustauthin.
  2. Mustauthin: Bagi karyawan yang bertempat tinggal di kampung sekitar perusahaan.

قرة العين بفتاوى إسماعيل الزين صحـ: 81

سؤال: عَنْ طَائِفَةٍ مُقِيْمِيْنَ بِبَلَدَةٍ فَهَلْ لَهُمْ إِقَامَةُ الْجُمُعَةِ في مَقَرِّ عَمَلِهِمْ لِكَوْنِهِمْ أَرْبَعِيْنَ فَأَكْثَرَ؟

الْجَوَابُ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ مُسْتَمِدًّا مِنْهُ الْعَوْنَ عَلَى الصَّوَابِ فِي الْجَوَابِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْمَآبِ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لاَ بُدَّ مِنْ مَعْرِفَةِ مُقَدِّمَةٍ أَماَمَ الْجَوَابِ وَهِىَ أَنَّ كُلَّ شَخْصٍ فِي أَيِّ مَكَانٍ لاَبُدَّ أَنْ يَكُوْنَ أَحَدُ أَقْسَامٍ ثَلاَثَةٍ أَحَدُهَا مُسَافِرٌ وَهُوَ مَنْ لَا يَنْوِيْ إِقَامَةً مُؤَثِّرَةً وَهِىَ أَرْبَعَةُ أَيَّامٍ فَأَكْثَرَ بَلْ يَقْصِدُ إِقَامَةً أَقَلَّ مِنْ ذَلِكَ وَثَانِيْهَا مُقِيْمٌ وَهُوَ مَنْ يَنْوِيْ إِقَامَةً مُؤَثِّرَةً أَرْبَعَةَ أَيَّامٍ فَأَكْثَرَ وَلَوْ مِئَاتِ السِّنِيْنَ لَكِنَّهُ يَقْصِدُ اَلرُّجُوْعَ إِلَى وَطَنِهِ فَهَذَا مُقِيْمٌ وَثَالِثُهَا مُسْتَوْطِنٌ وَهُوَ مَنْ لاَ يَنْوِي الرُّجُوْعَ مِنَ الّبَلَدِ اَلَّتِيْ هُوَ بِهَا فَالْقِسْمُ الأَوَّلُ وَهُوَ اَلْمُسَافِرُ لاَ تَلْزَمُهُ الْجُمُعَةُ وَلاَ تَنْعَقِدُ بِهِ بَلْ تَصِحُّ مِنْهُ لَوْ صَلاَّهَا مَعَ أَهْلِهَا وَتُغْنِيْهِ عَنِ الظُّهْرِ وَالْقِسْمُ اَلثَّانِيْ وَهُوَ اَلْمُقِيْمُ تَلْزَمُهُ وَيَجِبُ عَلَيْهِ حُضُوْرُهَا مَعَ أَهْلِهَا إِنْ كَانَ يَبْلُغُهُ نِدَاؤُهَا لَكِنَّهَا لاَ تَنْعَقِدُ بِهِ بَلْ تَصِحُّ مِنْهُ تَبْعًا لاَ اسْتِقْلاَلاً وَالْقِسْمُ اَلثَّاِلثُ وَهُوَ اَلْمُسْتَوْطِنُ تَلْزَمُهُ وَتَنْعَقِدُ بِهِ وَلاَ تَصِحُّ مِنْهُ اَلظُّهْرُ مَا دَامَتِ الْجُمُعَةُ تُمْكِنُهُ اهـ

Lalu apakah sah mendirikan shalat jumat di tempat kerja tersebut? dari sisi tempat dan jumlah jamaah yang sudah mencapai 40 orang bahkan lebih, sebenarnya sudah mencukupi untuk dilaksanakannya shalat Jumat sesuai pendapat mayoritas Madzhab Syafi’i. Namun apabila dilihat dari jamaah yang berstatus muqim (bukan mustauthin), ulama masih memperselisihkan keabsahannya.

KESIMPULAN DAN ALTERNATIF HUKUM

Jika memungkinkan mengikuti shalat Jumat yang dilaksanakan oleh penduduk setempat, maka hendaknya melaksanakan shalat Jumat bersama mereka sebab sebagaimana dikatakan dalam kaidah fiqih:

الخروج من الخلاف مستحب

“Keluar dari ikhtilaf (perbedaan) ulama dianjurkan”.

Jika tidak memungkinkan, maka diperinci:

  • Jika karyawan yang melaksanakan shalat jumat di tempat tersebut terdapat minimal 4 – 12 orang penduduk asli sekitar kampung (mustauthin) maka keabsahannya tidak diragukan lagi dengan mengikuti pendapat qaul qadimnya imam Syafi’i yang hal itu diperbolehkan apabila didukung oleh ashhab (tanpa harus berpindah madzhab) sebagaimana pernyataan dalam kitab Fathul Mu’in dan I’anah At-Tholibin:

 

فتح المعين مع حاشية اعانة الطالبين – (ج 2 / ص 58-59)

قوله اي غير الامام الشافعي، اي باعتبار مذهبه الجديد فلا ينافي ان له قولين قديمين في العدد ايضا أحدهما أقلهم اربعة حكاه عنه صاحب التلخيص وحكاه في شرح المهذب واختاره من اصحابه المزني كما قاله الاذرعي وكفى به سلفا في ترجيحه فإنه من كبار اصحاب الشافعي ورواة كتبه الجديدة وقد رجحه ايضا ابو بكر بن المنذر في الاشراف كما نقله النووي في شرح المهذب ثاني القولين اثنا عشر وهل يجوز تقليد هذين القولين؟ الجواب نعم فإنه قول للإمام نصره بعض أصحابه ورجحه

  • Jika semua karyawan statusnya adalah muqim (tidak ada penduduk asli) maka alternatif hukum keabsahannya mengikuti pendapat muqabilul ashah yang terdapat dalam kitab Muhadzab dan syarahnya yang menyatakan sah shalat Jumat dilaksanakan oleh orang yang berstatus muqimin ghairi mustauthin.

المهذب (ج 2 / ص 208)

وجاء في المهذب هل تنعقد بمقيمين غير مستوطنين فيه وجهان قال علي بن ابي هريرة تنعقد بهم لأنه تلزمهم الجمعة فانعقدت بهم كالمستوطنين وقال ابو اسحق لا تنعقد

المجموع شرح المهذب – (ج 4 / ص 503)

وأما قول المصنف هل تنعقد بمقيمين غير مستوطنين فيه وجهان مشهوران (أصحهما) لا تنعقد اتفقوا على تصحيحه ممن صححه المحاملي وامام الحرمين والبغوي والمتولي وآخرون

Catatan:

Dalam masalah ini tentunya sangat memungkinkan dan terbuka ruang untuk talfiq (mencampur madzhab). Maka hendaknya kita mengikuti pendapat ulama yang memperbolehkan talfiq tanpa berniat mengambil yang ringan-ringan saja, sebagaimana dikatakan dalam kitab Fathul Allam,

والذي اذهب اليه واختاره القول بجواز التقليد في التلفيق لا بقصد تتبع ذلك لان من تتبع الرخص فسق

Sebab sebagaimana sering kita dengar “bahwa meninggalkan shalat Jumat (karena belum ideal) itu lebih besar mudharatnya daripada melaksanakan shalat jumat meski belum sempurna”.

Wallaahu a’lamu binafsil amri wa haqiiqatil haal.

Tanya jawab ini juga dipublikasikan di NU MEDIA


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia