Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fiqih. Tampilkan semua postingan
Fiqih Curhat: Anak Kecil Jadi Muadzin dan Imam Shalat. Bolehkah?

Fiqih Curhat: Anak Kecil Jadi Muadzin dan Imam Shalat. Bolehkah?

Assalamu alaikum Wr. Wb.

Izin bertanya seputar adzan. Apakah boleh adzan dikumandangkan oleh anak kecil yang masih duduk di bangku TPA? Di tempat kami, kadang-kadang yang mengumandangkan adzan adalah anak-anak TPA yang belum balig, dan bahkan kadang anak-anak yang agak besar kami suruh menjadi imam shalat. Mohon pencerahannya.

(Penanya: Jemaah Trans Bangun Solidaritas/TRABAS)

 Wa alaikum salam Wr. Wb.

Penanya yang dirahmati Allah SWT, adzan secara bahasa berarti pemberitahuan. Secara syar'i, adzan adalah pemberitahuan tentang masuknya waktu shalat dengan menggunakan lafadz-lafadz yang sudah ditentukan. Dalam literatur fiqih, orang yang mengumandangkan adzan harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut:

  • Islam
  • Berakal
  • Tamyiz
  • Laki-laki; perempuan tidak boleh adzan kecuali untuk jama'ahnya sendiri.
  • Mengetahui waktu masuknya shalat.
Adapun kesunahan-kesunahan dalam mengumandangkan adzan adalah sebagai berikut:
  • Orang yang merdeka (bukan hamba sahaya)
  • Orang yang balig (dewasa)
  • Mempunyai suara yang lantang
  • Mengetahui waktu shalat secara akurat
  • Orang yang sukarela dalam melakukannya
  • Suci dari kedua hadas
  •  Dikumandangkan di dalam atau dekat masjid dan di tempat yang tinggi (seperti pengeras suara pada zaman sekarang)
  • Berdiri dan menghadap kiblat
  • Memasukkan dua ujung jari ke lubang telinganya
  • Melafadzkan dua lafadz takbir dalam satu nafas

Dari beberapa persyaratan dan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya anak kecil (setingkat TPA) diperbolehkan untuk mengumandangkan adzan, asalkan benar lafadz yang diucapkannya. Hanya saja, jika mengacu pada kesunahan dalam mengumandangkan adzan, maka orang dewasa yang memenuhi kriteria di atas lebih diutamakan.

Kemudian terkait anak kecil menjadi imam shalat apakah boleh (sah)? Maka sebagaimana dalam hadis bahwasanya di masa Rasulullah ﷺ sebenarnya pernah terjadi peristiwa demikian, salah satu sahabat yang masih berusia sekitar enam tahun yaitu ‘Amr bin Salamah mengimami para pengikutnya, seperti dalam hadis sahabat:

 كان عمرو بن سلمة يؤم قومه على عهد رسول الله ﷺ وهو ابن ست أو سبع سنين.

“Amr bin Salamah mengimami kaumnya di masa Rasulullah ﷺ, sedangkan dia masih berumur sekitar enam atau tujuh tahun.” (HR. Bukhari)

Berdasarkan hadis tersebut, para ulama Syafi’iyyah berpandangan bahwa dihukumi sah shalatnya orang yang sudah baligh ketika makmum pada anak kecil yang sudah tamyiz (dapat membedakan hal baik dan buruk) dan mengerti tentang syarat-syarat dan rukun shalat, meskipun jamaah model demikian dihukumi makruh, sebab mau bagaimanapun masih lebih utama orang yang sudah baligh yang seharusnya menjadi imam, bukan anak kecil. Selain itu, hukum makruh ini dilandasi karena menurut tiga mazhab yang lain selain Imam Syafi’i, bermakmum pada anak kecil pada shalat fardlu dihukumi tidak sah. Keabsahan shalat dengan anak kecil ini berlaku dalam semua shalat, baik itu shalat fardlu ataupun shalat Sunnah kecuali pada shalat Jumat saat anak kecil menjadi imam dan termasuk dalam hitungan 40 orang yang dapat mengabsahkan shalat jum’at, maka dalam keadaan demikian tidak boleh bagi anak kecil untuk menjadi imam.

Waallahu A’lamu Binafsil Amri Wa Haqiqatil Haal.

 

referensi lengkapnua bisa dibaca dalam ibarat (teks) di bawah ini:

فقه العبادات - شافعي (ص: 265):

 شروط المؤذن:

1 - الإسلام والعقل: فلا يصح أذان الكافر أو المرتد أو المجنون لأنهم ليسوا من أهل العبادات.

2 – التمييز

3 - الذكورة إلا في جماعة نسوة فإذا أذنت امرأة للرجال لم يعتد بأذانها لأنه لا تصح إمامتها للرجال فلا يصح تأذينها لهم.

4 - أن يكون عارفا بالمواقيت إن كان مولى (موكلا به بشكل دائم) ومرتبا للأذان.

 

ما يسن في الأذان والإقامة:

1.   ن يكون المؤذن حرا بالغا ...

2.    أن يكون المؤذن صيتا......

3.   أن يكون عالما بأوقات الصلاة عدلا .....

4.   أن يكون المؤذن متطوعا .......

5.   أن يكون على طهارة لأن الأذن ذكر وهو متصل بالصلاة فيستحب أن يكون على طهارة ......

6.   أن يكون قرب المسجد على موضع عال ......

7.   أن يؤذن قائما ......

8.   أن يكون متوجها إلى القبلة فإذا بلغ الحيعلتين التفت عن يمينه فقال: " حي على الصلاة حي على الصلاة " ثم عن يساره فقال: " حي على الفلاح حي على الفلاح " من غير أن يحول صدره عن القبلة ولا قدميه عن مكانهما ......

9.   أن يجعل إصبعيه في أذنيه في الأذان دون الإقامة ......

10.          أن يجمع كل تكبيرتين بنفس ........

 

الفقه على مذهب الأربعة: ج،1/ص:642

الشافعية قالوا: يجوز اقتداء البالغ بالصبي المميز في الفرض إلا في الجمعة فيشترط أن يكون بالغا إذا كان الإمام من ضمن العدد الذي لا يصح إلا به فإن كان زائدا عنهم صح أن يكون صبيا مميزا


Fiqih Curhat: Hukum Memejamkan Mata Saat Shalat

Fiqih Curhat: Hukum Memejamkan Mata Saat Shalat

Assalamu alaikum. Wr. Wb.

Mau bertanya tentang hukum memejamkan mata saat shalat boleh tidak, karena kadang saya merasa terganggu saat melihat sesuatu di depan saya?

 Wa alaikum salam Wr. Wb.

Dalam melaksanakan shalat seseorang dituntut mengerjakannya dalam keadaan khusyu’ sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Zainudin Al-Malibari dalam kitabnya Fathul Muin, hal 125:

وسن (فيها) أي في صلاته كلها (خشوع بقلبه) بأن لا يحضر فيه غير ما هو فيه وإن تعلق بالآخرة (وبجوارحه) بأن لا يعبث بأحدها وذلك لثناء الله تعالى في كتابه العزيز على فاعله بقوله قد أفلح المؤمنون الذين هم في صلاتهم خاشعون ولانتفاء ثواب الصلاة بانتفائه كما دلت عليه الأحاديث الصحيحة.

 Artinya: Sunah khusyuk di hatinya, di seluruh shalatnya, yaitu dengan tidak menghadirkan di hatinya selain yang terkait dengan shalat, meskipun terkait dengan masalah akhirat. Sunah pula adanya khusyuk pada anggota badannya, yaitu dengan cara tidak bermain-main. Kesunahan khusyuk dikarenakan Allah memuji di dalam kitab-Nya kepada para pelaku khusyuk dengan ungkapan:

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ {1} الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ {2}

(Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya), juga karena pahala shalat tidak bisa didapatkan apabila tidak khusyuk sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadis-hadis sahih.

Dalam kitab tersebut beliau juga menyatakan sunah bagi orang yang melaksanakan shalat menfokuskan pandangannya pada tempat sujudnya sebab itu akan mendatangkan kekhusyuan. Beliau mengatakan:

وسن إدامة نظر محل سجوده لأن ذلك أقرب إلى الخشوع، ولو أعمى، وإن كان عند الكعبة أو في الظلمة، أو في صلاة الجنازة. نعم، السنة أن يقتصر نظره على مسبحته عند رفعها في التشهد لخبر صحيح فيه.

Artinya: Disunahkan melanggengkan pandangan mata ke arah tempat sujud supaya lebih khusyu’, sekalipun tuna tentra, sedang shalat dekat Ka’bah, shalat di tempat yang gelap, ataupun shalat jenazah. Namun disunahkan mengarahkan pandangan mata ke jari telunjuk, terutama ketika mengangkat jari telunjuk, saat tasyahud akhir, karena ada dalil shahih tentang kesunahan itu.

Kemudian apakah boleh seandainya shalat dilakukan sambil memejamkan mata sebagaimana pertanyaan di atas. Maka jawabannya adalah hukum memejamkan mata saat shalat boleh-boleh saja dan bahkan sunah jika sekiranya ada sesuatu yang menggangu pandangan dan pikirannya. Hal tersebut sebagaimana dijelaskan oleh Sayyid Abu Bakar Syatha dalam kitab I’anah Thalibin dan dalam masalah ini beliau merincinya menajdi empat macam:

1. Memejamkan mata boleh-boleh saja dan tidak makruh sebab tidak ada larangan.

2. Wajib memejamkan mata apabila ada yang tidak menutup aurat dalam saf shalat. Ini biasanya jarang terjadi, kecuali pada masyarakat yang sedang mengalami krisis pakaian.

3. Sunnah apabila shalat di tempat yang banyak gambar dan ukiran. Memejamkan mata disunnahkan dalam kondisi ini bila gambar dan ukiran tersebut bisa menganggu pikiran.

4. Makruh memejamkan bila berbahaya, yaitu shalat di tempat yang banyak ular atau binatang lainnya yang dikhawatirkan dapat mengancam keselamatannya.

إعانة الطالبين - البكري الدمياطي - ج ١ - الصفحة ٢١٤

(قوله: ولا يكره تغميض عينيه) أي لأنه لم يرد فيه نهي: قال ع ش: لكنه خلاف الأولى، وقد يجب التغميض إذا كان العرايا صفوفا، وقد يسن كأن صلى لحائط مزوق ونحوه مما يشوش فكره. قاله العز بن عبد السلام. اه‍ م ر. (قوله: إن لم يخف) أي من التغميض ضررا، فإن خافه كره.


Fiqih Curhat: Problematika Anak Hasil Adopsi dan Solusinya

Fiqih Curhat: Problematika Anak Hasil Adopsi dan Solusinya

Assalamu alaikum. Wr.Wb

Izin bertanya Pak Ustadz tentang seputar hukum mengadopsi anak, serta apakah ketika sudah besar anak yang saya diadopsi haram memandang atau berduaan dengan suami saya, begitu juga siapa yang berhak menjadi wali nikahnya nanti? karena kebetulan anak yang saya adopsi adalah perempuan. Mohon pencerahannya!

(Penanya: Majelis Taklim Al-Kautsar Sambaliung)

 Wa alaikum salam Wr.Wb.

Ibu penanya yang dirahmati Allah Swt. Pertama yang perlu saya paparkan di sini adalah terkait istilah adopsi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki pengertian pengangkatan anak orang lain sebagai anak sendiri, sedangkan arti mengadopsi adalah mengambil (mengangkat) anak orang lain secara sah menjadi anak sendiri. Adapun di masa jahiliyah adopsi dikenal dengan istilah tabanni, yang mana sejak sebelum Nabi Muhammad Saw. diutus mereka mempraktikkan adopsi secara mutlak dengan artian mennisbatkan hubungan antara anak angkat dan orang tua angkat sepenuhnya sama dengan anak dan orang tua kandung.

Rasulullah sendiri juga memiliki anak angkat, Zaid bin Haritsah, yang kemudian dinisbatkan dengan Zaid bin Muhammad. Kemudian turunlah ayat:

﴿ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِندَ اللَّهِ ۚ فَإِن لَّمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ ۚ وَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ فِيمَا أَخْطَأْتُم بِهِ وَلَٰكِن مَّا تَعَمَّدَتْ قُلُوبُكُمْ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا﴾[ الأحزاب: 5]

Artinya: Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Ahzab: 5].

Dalam ayat lain ditegaskan bahwa anak hasil adopsi tidak boleh disamakan dengan anak kandung. Sehingga Allah memerintahkan Rasululah menikahi Zainab bin Jahsyi, mantan istri anak angkatnya sebagai bukti bahwa status anak angkat tidaklah sama dengan anak kandung.

فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا﴾ [ الأحزاب: 37]

….Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi. [Ahzab: 37]

Berdasarkan dua ayat di atas, maka hukum mengadopsi sebagaimana yang dipraktikkan orang-orang di masa jahiliyah (menisbatkan nasab sehingga mendapat hak warisan dari orang tua angkatnya) adalah haram.

Beda halnya jika hanya dalam rangka mengasuh, merawat dan mendidik, maka hukumnya boleh-boleh saja dan hal semacam itu diistilahkan dengan tabanni bi makna al-kafalah.

Kemudian terkait hukum memandang dan ikhtilath (berduaan) hukumnya tetap haram disebabkan tidak adanya hubungan mahram. Begitu juga seorang bapak angkat tidak diperbolehkan menjadi wali pernikahannya, dan yang berhak menjadi walinya adalah bapak kandung, atau wali-wali yang lain dari keluarga aslinya, dan jika tidak ada atau tidak ditemukan, maka perwaliannya berpindah pada hakim (KUA).

Solusi: Agar terhindar dari keharaman tersebut, maka hendaknya bagi ibu yang ingin mengadopsi anak hendaknya menjadikan anak tersebut menjadi anak rodho’ dengan cara mengadopsinya pada waktu umur di bawah dua tahun dan menyusuinya sebagai lima kali susuan secara terpisah.

فتاوى قطاع الإفتاء بالكويت: (ج:7، ص:148)

انتساب الولد إلى غير أبيه:

كما حرم الإسلام على الأب أن ينكر نسب ولده بغير حق حرم على الولد أن ينتسب لغير والده، ويدعى إلى غير أبيه، قال عليه الصلاة والسلام: "من ادعى إلى غير أبيه أو انتمى إلى غير مواليه فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين لا يقبل الله منه يوم القيامة صرفاً ولا عدلاً". أي توبة ولا فدية. (متفق عليه)، وقال عليه الصلاة والسلام: " من ادعى إلى غير أبيه وهو يعلم أنه غير أبيه فالجنة عليه حرام". (متفق عليه).

التبني بمعنى التربية والرعاية:

هناك نوع يظنه الناس تبنياً وليس هو بالتبني الذي حرمه الإسلام وذلك: أن يضم الرجل إليه طفلاً يتيماً أو لقيطاً، ويجعله كابنه في الحنو عليه والعناية به والتربية له، فيحضنه ويطعمه ويكسوه ويعلمه كأنه ابنه من صلبه، ومع هذا لم ينسبه لنفسه ولم يثبت له أحكام البنوة المذكورة، فهذا أمر محمود في دين الله. يستحق صاحبه عليه المثوبة في الجنة.

 

التنبيه (ص: 204):

باب الرضاع

 إذا ثار للمرأة لبن على ولد فارتضع منها طفل له دون الحولين خمس رضعات متفرقات صار ولدا لها وأولاده أولادها وصارت المرأة أما له وأمهاتها جداته وآباؤها اجداده واولادها إخوته واخواته وأخوتها وأخواتها أخواله وخالاته وإن كان الحمل ثابت النسب من رجل صار ولدا له وأولاده أولاده وصار الرجل ابا له وأمهاته وجداته وآباؤه أجداده وأولاده إخواته وأخواته وإخوته وأخواته أعمامه وعماته ويحرم النكاح بينهما بالرضاع كما يحرم بالنسب وتحل له الخلوة والنظر كما تحل بالنسب.

المجموع شرح المهذب - شجرة العناوين (ج:16، ص:163)

(فرع) قال الشافعي رضى الله عنه: فان كان أولاهم به مفقودا أو غائبا غيبة بعيدة كانت أو قريبة زوجها السلطان، وجملة ذلك أنه إذا كان للمرأة أب أو جد فغاب الأب وحضر الجد ودعت المرأة إلى تزويجها نظرت، فان كان الاب مفقودا بأن انقطع خبره ولا يعلم أنه حي أو ميت فان الولاية لا تنتقل إلى الجد، وانما يزوجها السلطان، لأن ولاية الاب باقية عليها، بدليل أنه لو زوجها في مكانه لصح.


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia